Senin, 23 September 2019

Salah kaprah


   Assalamu'alaikum, hallo. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang pengalaman ku waktu kegiatan porseni, waktu itu masih kelas 4 SD. Pada saat itu aku baru pertama kali ketemu banyak orang dari kampung lain, kami memang satu kecamatan tapi logat dan bahasa kami agak berbeda.

   Pada saat acara porseni dimulai aku dan teman-teman ku banyak berkenalan dengan orang dari kampung lain, awalnya memang tidak ada masalah tapi setelah aku bertemu dengan sebut saja namanya A, kami berkenalan dengannya memang wajahnya senyum tapi suara dan bahasa nya nyaring dan agak kasar, aku kanget mendengar dia kenalan dengan suara keras ku kira ia tidak senang dengan kami, lalu ia juga memanggil kami dengan sebutan kulak (artinya kamu) kalau dikampung kami itu disebut kurang sopan karena agak kasar, memang kulak dan nuan itu sama saja artinya tapi tetap saja bahasanya agak kasar, jadi dari situ aku menganggap si A tadi bukan orang yang sopan.

    Kemudian aku mendengar dia ngomong dengan temannya, ku kira mereka bertengkar karena suaranya sangat keras, biasanya kan orang marah itu identik dengan suara yang ditinggikan, jadi aku menyangka mereka bertengkar, selang beberapa waktu kemudian aku mendengar mereka tertawa. Dalam hati aku berfikir ada apa dengan mereka bukannya tadi mereka bertengkar ya.

    Lalu hari berikutnya aku bertanya pada temanku "eh kemarin kalian berdua bertengkar kan? Kenapa?" lalu kedua teman ku menatap ku dengan heran dan berkata "kami tidak pernah bertengkar kok", lalu aku pun bertanya lagi "lalu kenapa kalian berdua saling meninggikan suara?" lalu mereka tertawa kemudian mereka bilang "kami memang terbiasa berbicara dengan suara yang tinggi" dalam hatiku berfikir "oh ternyata seperti itu, ternyata aku hanya salah paham". Ya ternyata mereka teman yang baik, meskipun cara bicara mereka terbilang kasar. Jadi jangan salah paham dulu dengan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar