Senin, 02 Desember 2019

Resensi buku "budaya dayak yang ku kenal"



Nama: Hapipah Indarti
NIM   : 11901053
Kelas  : PAI 1/D


Judul Buku:  Budaya Dayak yang Ku Kenal
Pengarang :  Fidelara
Penerbit     : Armandelta selaras
Tebal           : 76 halaman

Buku ini merupakan hasil kajian tentang kebudayaan Dayak dalam bentuk sistematis dengan di kemas sedikit gambar yang disertai uraian-uraian yang jelas. Buku ini mengulas  berbagai hal yang berkaitan dengan asal-usul Suku Dayak , tempat Suku Dayak, dan kebudayaan Suku Dayak. Bagian pertama mengulas tentang definisi Dayak. Pada bagian ini diulas  asal mula nama Dayak dan pengertian Dayak. Suku Dayak suku asli yang mendiami pulau kalimantan atau Borneo pulau terbesar ke-3 di dunia setelah Greenland dan Papua. Luas pulau kalimantan 743.330 km2. Bagian kedua mengulas tentang asal usul Suku Dayak. Pada bagian ini diulas secara rinci asal usul Suku Dayak, pengaruh Hindu, enam rumpun terbesar Suku Dayak, dan peta penyebaran Suku Dayak. Bagian ketiga mengulas tentang kebudayaan Suku Dayak. Pada bagian ini diulas tentang rumah Suku Dayak, seni kerajinan rumah tangga, telinga panjang, tradisi khas Suku Dayak, senjata orang , totok bakakak (kode) yang umum dimengerti Suku Dayak, trdisi penguburan, seni tari Dayak, seni musik, dan seni drama Mamanda. Ulasan tersebut dilengkapi beberapa gambar dan penjelasanya secara rinci. Secara menyeluruh buku ini, mengupas secara lengkap budaya Suku Dayak yang unik dan berbeda dari suku lain.

Kekurangan: terlalu sedikit gambar, dan penyusunan isi yang masih kurang tertata, dan ada bahasa yang masih kurang dimengerti.

Kelebihan:
Penyajian buku ini menggunakan bahasa yang komunikatif dan sangat bagus dibaca oleh pendidik, mahasiswa, pelajar, dan semua elemen masyarakat yang peduli terhadap kebudayaan Indonesia. Selain itu juga semakin menghayati kekayaan budaya lokal Indonesia yang dapat menumbuhkan kebanggaan akan keanekaragaman budaya Indonesia

Senin, 23 September 2019

Salah kaprah


   Assalamu'alaikum, hallo. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang pengalaman ku waktu kegiatan porseni, waktu itu masih kelas 4 SD. Pada saat itu aku baru pertama kali ketemu banyak orang dari kampung lain, kami memang satu kecamatan tapi logat dan bahasa kami agak berbeda.

   Pada saat acara porseni dimulai aku dan teman-teman ku banyak berkenalan dengan orang dari kampung lain, awalnya memang tidak ada masalah tapi setelah aku bertemu dengan sebut saja namanya A, kami berkenalan dengannya memang wajahnya senyum tapi suara dan bahasa nya nyaring dan agak kasar, aku kanget mendengar dia kenalan dengan suara keras ku kira ia tidak senang dengan kami, lalu ia juga memanggil kami dengan sebutan kulak (artinya kamu) kalau dikampung kami itu disebut kurang sopan karena agak kasar, memang kulak dan nuan itu sama saja artinya tapi tetap saja bahasanya agak kasar, jadi dari situ aku menganggap si A tadi bukan orang yang sopan.

    Kemudian aku mendengar dia ngomong dengan temannya, ku kira mereka bertengkar karena suaranya sangat keras, biasanya kan orang marah itu identik dengan suara yang ditinggikan, jadi aku menyangka mereka bertengkar, selang beberapa waktu kemudian aku mendengar mereka tertawa. Dalam hati aku berfikir ada apa dengan mereka bukannya tadi mereka bertengkar ya.

    Lalu hari berikutnya aku bertanya pada temanku "eh kemarin kalian berdua bertengkar kan? Kenapa?" lalu kedua teman ku menatap ku dengan heran dan berkata "kami tidak pernah bertengkar kok", lalu aku pun bertanya lagi "lalu kenapa kalian berdua saling meninggikan suara?" lalu mereka tertawa kemudian mereka bilang "kami memang terbiasa berbicara dengan suara yang tinggi" dalam hatiku berfikir "oh ternyata seperti itu, ternyata aku hanya salah paham". Ya ternyata mereka teman yang baik, meskipun cara bicara mereka terbilang kasar. Jadi jangan salah paham dulu dengan orang lain.

Senin, 16 September 2019

desaku



          Desa mawan kecamatan pengkadan kabupaten kapuas hulu provinsi kalimantan barat, adalah tempat tinggal ku sekaligus kampung halaman ku, aku lahir dan besar disana. Meskipun kampung tapi tempat tinggal ku terbilang cukup besar, dikampung ku ada bukit yang bernama bukit imbau, bukit imbau sangat unik karna jika dilihat dari sisi yang berbeda mempunyai dua bentuk segitiga dan trapesium. Bukit imbau kaya akan sumber daya alam buah-buahan dan sebagainya, bahkan air bersih yang kami gunakan untuk sehari-hari dari bukit imbau juga, airnya sangat jernih bahkan saat dites dengan penyaring air kotor tidak ada bedanya saking jernihnya dan rasanya ada manis-manisnya gitu eh tapi ini bukan iklan lee mineral ya.





          Puncak dari bukit imbau biasa kami sebut dengan “batara”, bukit imbau punya dua puncak, puncak yang satunya lagi namanya “puncak 11 hari” puncak itu dikenal dengan mitos, beda dengan batara, puncak 11 hari Cuma satu orang yang pernah sampai kesana, katanya puncak 11 hari lebih tinggi dari batara, mendaki ke puncak batara saja saya sudah K.O apa lagi naik ke puncak 11 hari, kenapa dinamakan puncak 11 hari karena pernah satu orang naik kesana hilang disana selama 11 hari, setelah turun dari bukit dia membawa tempayan (semacam gerabah) dan dia jadi gila, tempayan itu memang benar-benar ada dan sekarang diletak dimasjid, orang-orang pun heran bagai mana bisa dia membawa tempayan sebesar itu dan turun dari bukit. Mitosnya disana ada lobang batu yang kalau kita isi dengan air bisa jadi emas tapi disana juga ada penunggunya nah jadi kalau kita bertemu dengan penunggunya kita jadi gila. Puncak 11 hari juga tidak ada yang tau jalannya karena katanya tempat itu dilarang untuk didatangi manusia, kalau ada yang mau ke puncak 11 hari pasti dia mutar-mutar bukit saja dan tidak bisa ke puncak karena katanya penunggu yang menjaga puncak itu bisa membawa orang agar tersesat.



          Di bukit imbau juga ada sarai (semacam air terjun), sarai di bukit imbau Cuma pernah didatangi orang dikampung kami saja dan memang belum di buka untuk umum, karena takut pihak yang kurang bertanggung jawab akan mencemarinya. Sarai dibukit imbau ada tujuh tingkat dengan letak yang berbeda. Kami biasa mandi kesana pada hari minggu, karena letaknya pun tidak terlalu jauh, tapi itu dulu waktu saya masih SMP sekarang saya sudah tidak pernah kesana lagi. Biasanya kalau musim hujan airnya akan sangat deras dan itu menambah daya tariknya, airnya pun sangat jernih.



          Pada tahun 2010 dulu bukit imbau pernah longsor dan itu membuat kampung ku banjir selama satu minggu, airnya bahkan sampai masuk rumah kami, dan waktu banjir banyak ikan-ikan dikolam orang-orang dikampung ku  yang lepas, termasuk juga ikan arwana merah dikolam ayah ku, pada saat itu ada sekitar 5 ekor ikan arwana merah ayah ku yang lepas, tentunya itu merupakan kerugian yang sangat besar. Tapi yang lebih lucunya ikan itu masuk rumah dan aku mengira itu adalah buaya saking besarnya, meskipun masuk rumah ikannya tetap tidak bisa ditangkap dan tetap lepas.ayah ku saat itu memang tidak hoki padahal ikan sudah masuk rumah tapi masih saja lepas.



         

Masih banyak lagi cerita menarik di kampung ku tapi rasanya aku tak cukup hebat untuk banyak menulis, lebih tepatnya aku tak sanggup. Karena menulis tentang kampung halaman aku jadi merindukan udara yang segar dan suasana kampung yang nyaman. Memang senyaman-nyamannya kota orang tidak ada yang lebih nyaman dari kampung sendiri.

Senin, 09 September 2019

Aku afifah


  Holla. Aku hapipah indarti, aku lahir di sebuah kampung yang terletak di kabupaten kapuas hulu lebih tepatnya di kecamatan pengkadan, di usia ku yang sudah genap 18 tahun pada bulan juni kemarin aku resmi menjadi mahasiswa baru di IAIN PONTIANAK, aku lulus seleksi lewat jalur SPAN-PTKIN dengan prodi PAI.        Sekarang aku hidup di kota orang lebih tepatnya menjadi anak rantau, memang aku sudah merantau semenjak SMA karena aku bersekolah di MAN 01 KH yang letaknya di Putussibau, aku memang sudah terbiasa jauh dengan orang tua, tapi bukan berarti aku tidak mengalami kesusahan selama hidup di kota orang, aku agak kesulitan karena belum terbiasa dan belum tau bagaimana sifat orang-orang di sini, aku juga bosan karena masih belum banyak kenalan, aku kesusahan ngomong dan berinteraksi dengan orang-orang karena belum terbiasa dengan bahasa disini, dan karena itulah aku jadi manusia gagu. Semua perlu proses dan adaptasi bukan?