Senin, 19 April 2021

Laporan bacaan MAGANG 1

Laporan Bacaan
Oleh : Hapipah Indarti
11901052
PAI 4/D


Identitas buku: 

A. Judul : Model kultur sekolah berbasis multiple intellegence

B. Penulis : dr. H., Kamarudin Hasan.

C. Penerbit : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Al Gazali Barru

D. Cetakan : 2

E. Tebal : 114


1. Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.

Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.


2. Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.

Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c) kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : (a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (b) nilai-nilai keterbukaan; (c) nilai-nilai kejujuran; (d) nilai-nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; (g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; (i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan; (m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

Jadi dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat merubah pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.

3. Identifikasi Kultur Sekolah

Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah harus dapat mejadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figur yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan, dan selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan model bagi warga sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 11).

a. Kultur Positif, Negatif, dan Netral

Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan netral. Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang pro (mendukung) peningkatankualitas pendidikan. Sebagai contoh kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen terhadap belajar, saling percaya antar warga sekolah, menjaga sportivitas dan sebagainya. 

Kultur yang bersifat negatif adalah kultur yang kontra (menghambat) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak jam pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau mengemukakan pendapat, warga sekolah saling menjatuhkan, persaingan yang tidak sehat di antara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah, penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang, pornografi dan sebagainya. Sedangkan kultur yang bersifat netral adalah kultur yang tidak mendukung maupun menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga sekolah, seragam guru, dan sebagainya.

b. Artifak, Nilai, Keyakinan, dan Asumsi

Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.

Dalam kaitannya dengan kebutuhan pengembangan kultur sekolah, yang perlu dipahami bahwa kultur hanya dapat dikenali melalui pencerminannya pada berbagai hal yang dapat diamati disebut dengan artifak. 

Artifak ini dapat berupa:

1) Perilaku verbal: ungkapan lisan atau tulis dalam bentukkalimat dan kata-kata.

2) Perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.

3) Benda hasil budaya: arsitektur, eksterior dan interior, lambang, tata ruang, meblair, dan sebagainya. Dibalik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa: 1) Nilai-nilai: mutu, disiplin, toleransi, dan sebagainya. 2) Keyakinan: tidak kalah dengan sekolah lain bila mau bekerja keras. 3) Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya waktu yang diperlukan berbeda.

c. Peran Kepala Sekolah

Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung Perhatian ini sejalan dengan era yang ditandai dengan perubahan-perubahan dramatis dalam berbagai bidang kehidupan, yang tak terelakkan lagi berpengaruh pada pendidikan. Di era perubahan ini, kepemimpinan sangat penting dalam memandu peningkatan prestasi dan perkembangan sekolah. Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah.


Senin, 02 Desember 2019

Resensi buku "budaya dayak yang ku kenal"



Nama: Hapipah Indarti
NIM   : 11901053
Kelas  : PAI 1/D


Judul Buku:  Budaya Dayak yang Ku Kenal
Pengarang :  Fidelara
Penerbit     : Armandelta selaras
Tebal           : 76 halaman

Buku ini merupakan hasil kajian tentang kebudayaan Dayak dalam bentuk sistematis dengan di kemas sedikit gambar yang disertai uraian-uraian yang jelas. Buku ini mengulas  berbagai hal yang berkaitan dengan asal-usul Suku Dayak , tempat Suku Dayak, dan kebudayaan Suku Dayak. Bagian pertama mengulas tentang definisi Dayak. Pada bagian ini diulas  asal mula nama Dayak dan pengertian Dayak. Suku Dayak suku asli yang mendiami pulau kalimantan atau Borneo pulau terbesar ke-3 di dunia setelah Greenland dan Papua. Luas pulau kalimantan 743.330 km2. Bagian kedua mengulas tentang asal usul Suku Dayak. Pada bagian ini diulas secara rinci asal usul Suku Dayak, pengaruh Hindu, enam rumpun terbesar Suku Dayak, dan peta penyebaran Suku Dayak. Bagian ketiga mengulas tentang kebudayaan Suku Dayak. Pada bagian ini diulas tentang rumah Suku Dayak, seni kerajinan rumah tangga, telinga panjang, tradisi khas Suku Dayak, senjata orang , totok bakakak (kode) yang umum dimengerti Suku Dayak, trdisi penguburan, seni tari Dayak, seni musik, dan seni drama Mamanda. Ulasan tersebut dilengkapi beberapa gambar dan penjelasanya secara rinci. Secara menyeluruh buku ini, mengupas secara lengkap budaya Suku Dayak yang unik dan berbeda dari suku lain.

Kekurangan: terlalu sedikit gambar, dan penyusunan isi yang masih kurang tertata, dan ada bahasa yang masih kurang dimengerti.

Kelebihan:
Penyajian buku ini menggunakan bahasa yang komunikatif dan sangat bagus dibaca oleh pendidik, mahasiswa, pelajar, dan semua elemen masyarakat yang peduli terhadap kebudayaan Indonesia. Selain itu juga semakin menghayati kekayaan budaya lokal Indonesia yang dapat menumbuhkan kebanggaan akan keanekaragaman budaya Indonesia

Senin, 23 September 2019

Salah kaprah


   Assalamu'alaikum, hallo. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang pengalaman ku waktu kegiatan porseni, waktu itu masih kelas 4 SD. Pada saat itu aku baru pertama kali ketemu banyak orang dari kampung lain, kami memang satu kecamatan tapi logat dan bahasa kami agak berbeda.

   Pada saat acara porseni dimulai aku dan teman-teman ku banyak berkenalan dengan orang dari kampung lain, awalnya memang tidak ada masalah tapi setelah aku bertemu dengan sebut saja namanya A, kami berkenalan dengannya memang wajahnya senyum tapi suara dan bahasa nya nyaring dan agak kasar, aku kanget mendengar dia kenalan dengan suara keras ku kira ia tidak senang dengan kami, lalu ia juga memanggil kami dengan sebutan kulak (artinya kamu) kalau dikampung kami itu disebut kurang sopan karena agak kasar, memang kulak dan nuan itu sama saja artinya tapi tetap saja bahasanya agak kasar, jadi dari situ aku menganggap si A tadi bukan orang yang sopan.

    Kemudian aku mendengar dia ngomong dengan temannya, ku kira mereka bertengkar karena suaranya sangat keras, biasanya kan orang marah itu identik dengan suara yang ditinggikan, jadi aku menyangka mereka bertengkar, selang beberapa waktu kemudian aku mendengar mereka tertawa. Dalam hati aku berfikir ada apa dengan mereka bukannya tadi mereka bertengkar ya.

    Lalu hari berikutnya aku bertanya pada temanku "eh kemarin kalian berdua bertengkar kan? Kenapa?" lalu kedua teman ku menatap ku dengan heran dan berkata "kami tidak pernah bertengkar kok", lalu aku pun bertanya lagi "lalu kenapa kalian berdua saling meninggikan suara?" lalu mereka tertawa kemudian mereka bilang "kami memang terbiasa berbicara dengan suara yang tinggi" dalam hatiku berfikir "oh ternyata seperti itu, ternyata aku hanya salah paham". Ya ternyata mereka teman yang baik, meskipun cara bicara mereka terbilang kasar. Jadi jangan salah paham dulu dengan orang lain.

Senin, 16 September 2019

desaku



          Desa mawan kecamatan pengkadan kabupaten kapuas hulu provinsi kalimantan barat, adalah tempat tinggal ku sekaligus kampung halaman ku, aku lahir dan besar disana. Meskipun kampung tapi tempat tinggal ku terbilang cukup besar, dikampung ku ada bukit yang bernama bukit imbau, bukit imbau sangat unik karna jika dilihat dari sisi yang berbeda mempunyai dua bentuk segitiga dan trapesium. Bukit imbau kaya akan sumber daya alam buah-buahan dan sebagainya, bahkan air bersih yang kami gunakan untuk sehari-hari dari bukit imbau juga, airnya sangat jernih bahkan saat dites dengan penyaring air kotor tidak ada bedanya saking jernihnya dan rasanya ada manis-manisnya gitu eh tapi ini bukan iklan lee mineral ya.





          Puncak dari bukit imbau biasa kami sebut dengan “batara”, bukit imbau punya dua puncak, puncak yang satunya lagi namanya “puncak 11 hari” puncak itu dikenal dengan mitos, beda dengan batara, puncak 11 hari Cuma satu orang yang pernah sampai kesana, katanya puncak 11 hari lebih tinggi dari batara, mendaki ke puncak batara saja saya sudah K.O apa lagi naik ke puncak 11 hari, kenapa dinamakan puncak 11 hari karena pernah satu orang naik kesana hilang disana selama 11 hari, setelah turun dari bukit dia membawa tempayan (semacam gerabah) dan dia jadi gila, tempayan itu memang benar-benar ada dan sekarang diletak dimasjid, orang-orang pun heran bagai mana bisa dia membawa tempayan sebesar itu dan turun dari bukit. Mitosnya disana ada lobang batu yang kalau kita isi dengan air bisa jadi emas tapi disana juga ada penunggunya nah jadi kalau kita bertemu dengan penunggunya kita jadi gila. Puncak 11 hari juga tidak ada yang tau jalannya karena katanya tempat itu dilarang untuk didatangi manusia, kalau ada yang mau ke puncak 11 hari pasti dia mutar-mutar bukit saja dan tidak bisa ke puncak karena katanya penunggu yang menjaga puncak itu bisa membawa orang agar tersesat.



          Di bukit imbau juga ada sarai (semacam air terjun), sarai di bukit imbau Cuma pernah didatangi orang dikampung kami saja dan memang belum di buka untuk umum, karena takut pihak yang kurang bertanggung jawab akan mencemarinya. Sarai dibukit imbau ada tujuh tingkat dengan letak yang berbeda. Kami biasa mandi kesana pada hari minggu, karena letaknya pun tidak terlalu jauh, tapi itu dulu waktu saya masih SMP sekarang saya sudah tidak pernah kesana lagi. Biasanya kalau musim hujan airnya akan sangat deras dan itu menambah daya tariknya, airnya pun sangat jernih.



          Pada tahun 2010 dulu bukit imbau pernah longsor dan itu membuat kampung ku banjir selama satu minggu, airnya bahkan sampai masuk rumah kami, dan waktu banjir banyak ikan-ikan dikolam orang-orang dikampung ku  yang lepas, termasuk juga ikan arwana merah dikolam ayah ku, pada saat itu ada sekitar 5 ekor ikan arwana merah ayah ku yang lepas, tentunya itu merupakan kerugian yang sangat besar. Tapi yang lebih lucunya ikan itu masuk rumah dan aku mengira itu adalah buaya saking besarnya, meskipun masuk rumah ikannya tetap tidak bisa ditangkap dan tetap lepas.ayah ku saat itu memang tidak hoki padahal ikan sudah masuk rumah tapi masih saja lepas.



         

Masih banyak lagi cerita menarik di kampung ku tapi rasanya aku tak cukup hebat untuk banyak menulis, lebih tepatnya aku tak sanggup. Karena menulis tentang kampung halaman aku jadi merindukan udara yang segar dan suasana kampung yang nyaman. Memang senyaman-nyamannya kota orang tidak ada yang lebih nyaman dari kampung sendiri.

Senin, 09 September 2019

Aku afifah


  Holla. Aku hapipah indarti, aku lahir di sebuah kampung yang terletak di kabupaten kapuas hulu lebih tepatnya di kecamatan pengkadan, di usia ku yang sudah genap 18 tahun pada bulan juni kemarin aku resmi menjadi mahasiswa baru di IAIN PONTIANAK, aku lulus seleksi lewat jalur SPAN-PTKIN dengan prodi PAI.        Sekarang aku hidup di kota orang lebih tepatnya menjadi anak rantau, memang aku sudah merantau semenjak SMA karena aku bersekolah di MAN 01 KH yang letaknya di Putussibau, aku memang sudah terbiasa jauh dengan orang tua, tapi bukan berarti aku tidak mengalami kesusahan selama hidup di kota orang, aku agak kesulitan karena belum terbiasa dan belum tau bagaimana sifat orang-orang di sini, aku juga bosan karena masih belum banyak kenalan, aku kesusahan ngomong dan berinteraksi dengan orang-orang karena belum terbiasa dengan bahasa disini, dan karena itulah aku jadi manusia gagu. Semua perlu proses dan adaptasi bukan?